Menghilang dan Kehilangan
Reviewed by Kisah Fajr
on
Februari 04, 2016
Rating: 5
Insyaf
#tulisangaje
#tidakuntukdibaca
#skipaja
#peringatansatu
#peringatandua
#peringatantiga
#yauda
#sokwelah
Daaan...
Mungkin ini adalah waktunya untuk insyaf.
Dari segala bentuk perkataan dan tindakan alay bin lebay yang selama ini terpendam.
Aku harus menjauh darimu jika ingin masa depanku selamat, Ay (bukanAyang, tapi panggilan kecil untuk si Alay bin Lebay) #nangis #ingusan #mulai
Sedang mengejar deadline revisi. Khawatir editornya ngga percaya kalo revisinya emang saya yang bikin dan malah ngira dilakukan oleh oknum bernama aneh. Butuh verifikasi buat diubah namanya, trus inet di asrama tak mendukung karna tinggal sisa-sisa paket (udah kepake buat ngadu-ngadu di blog, blog ga perlu kuota gede)
Ada ngga yang laptopnya diinstall pake nama saya, pinjem #naikturunalis #sempatsempatnya :))
Jadinya, guling-guling aja sampe ketiduran ah~~
#Selamat
#Andatelahmembuangwaktu
#karnamembacapostini
#postjebakan
#istighfar
#tidakuntukdibaca
#skipaja
#peringatansatu
#peringatandua
#peringatantiga
#yauda
#sokwelah
Daaan...
Mungkin ini adalah waktunya untuk insyaf.
Dari segala bentuk perkataan dan tindakan alay bin lebay yang selama ini terpendam.
Aku harus menjauh darimu jika ingin masa depanku selamat, Ay (bukan
Sedang mengejar deadline revisi. Khawatir editornya ngga percaya kalo revisinya emang saya yang bikin dan malah ngira dilakukan oleh oknum bernama aneh. Butuh verifikasi buat diubah namanya, trus inet di asrama tak mendukung karna tinggal sisa-sisa paket (udah kepake buat ngadu-ngadu di blog, blog ga perlu kuota gede)
Ada ngga yang laptopnya diinstall pake nama saya, pinjem #naikturunalis #sempatsempatnya :))
#Selamat
#Andatelahmembuangwaktu
#karnamembacapostini
#postjebakan
#istighfar
Insyaf
Reviewed by Kisah Fajr
on
Februari 02, 2016
Rating: 5
Perjalanan Malam
Bismillah,
Hari itu, Malam bangun dari tidur panjangnya. Kepergian matahari sejak sore tadi yang membangunkannya. Tidak seperti biasa yang ketika bangun, Malam dapat menikmati waktu hidupnya. Ya, tentu saja waktu hidup Malam, yang lebih singkat dibandingkan siang.
Kemarin, Malam melewati sebuah mesjid. Tempat para muslim memenuhi kebutuhan ruhiyah mereka. Sang Imam membacakan surat Al-Falaq dengan terisak. Perjalanan Malam seketika terhenti. Ia perih-sedih.
Malam berusaha mengelak. Tapi Malam sadar betul bahwa seperti Kalamullah itulah kenyataannya.
Di pinggiran jalan, Malam melihat beberapa orang yang tertidur beralaskan karton-karton kardus bekas. Tak takut padanya yang datang membawa dingin.
Lalu, Malam pun menyaksikan sebuah bus berhenti di halte terakhir. Seseorang telah turun membawa dompet kecil yang bukan miliknya. Raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Malam ingin melahapnya tapi urung. Perhatiannya teralihkan oleh seorang karyawati yang tampak mulai rusuh mencari ke sana ke mari membongkar isi tasnya. "Mana dompet! Mana dompet!" teriaknya tak bersuara selain pada diri sendiri. Malam iba.
Malam terus menyusuri jalan, menyaksikan kenyataan.
Kemudian di sudut kota disaksikannya orang-orang keluar masuk sebuah gedung yang tampak gelap dari luar. Nyatatanya, gedung itu penuh dengan gemerlap duniawi tak berarti. "Huh! Orang-orang ini adalah para pengecut yang mencari pelarian masalahnya," gerutu Malam. Ia ingin sekali memberangus tempat ini, jika lupa bahwa Rabb adalah yang Maha Menghakimi lagi Maha Adil.
Mereka adalah salah satu sumber masalahnya.
Malam mulai letih.
Kenyataan yang dilihatnya tidak hanya satu, tapi be-ribu.
Lantas, bagaimana aku dapat menikmati lagi ketentramanku?
Di tengah upaya yang nyaris putus asa, malam mendengar nyanyian merdu. Ia cari sumber suara itu. Suara yang menentramkannya. Suara yang meredam kesedihan Malam.
Siapa sangka, suara itu adalah lantunan doa-doa panjang dari seorang Ayah untuk puterinya, dari seorang suami untuk isterinya, dari seorang kepala keluarga untuk tanggung jawabnya, sumber kebahagiaannya. Cukuplah Malam menyimpan rahasia doa itu. Doa yang menjadi sumber ketenangan Malam.
Ah! Di akhir doa itu Malam tak sengaja mendengar, "Rabb, terima kasih telah menciptakan malam. Malam yang romantis menggemakan setiap munajatku pada-Mu"
Malam mendapatkan lagi ketenangannya, kenyamanannya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan rezeki bagi para Ayah sejati :')
Salam rindu dari puterimu
Hari itu, Malam bangun dari tidur panjangnya. Kepergian matahari sejak sore tadi yang membangunkannya. Tidak seperti biasa yang ketika bangun, Malam dapat menikmati waktu hidupnya. Ya, tentu saja waktu hidup Malam, yang lebih singkat dibandingkan siang.
Kemarin, Malam melewati sebuah mesjid. Tempat para muslim memenuhi kebutuhan ruhiyah mereka. Sang Imam membacakan surat Al-Falaq dengan terisak. Perjalanan Malam seketika terhenti. Ia perih-sedih.
Malam berusaha mengelak. Tapi Malam sadar betul bahwa seperti Kalamullah itulah kenyataannya.
Di pinggiran jalan, Malam melihat beberapa orang yang tertidur beralaskan karton-karton kardus bekas. Tak takut padanya yang datang membawa dingin.
Lalu, Malam pun menyaksikan sebuah bus berhenti di halte terakhir. Seseorang telah turun membawa dompet kecil yang bukan miliknya. Raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Malam ingin melahapnya tapi urung. Perhatiannya teralihkan oleh seorang karyawati yang tampak mulai rusuh mencari ke sana ke mari membongkar isi tasnya. "Mana dompet! Mana dompet!" teriaknya tak bersuara selain pada diri sendiri. Malam iba.
Malam terus menyusuri jalan, menyaksikan kenyataan.
Kemudian di sudut kota disaksikannya orang-orang keluar masuk sebuah gedung yang tampak gelap dari luar. Nyatatanya, gedung itu penuh dengan gemerlap duniawi tak berarti. "Huh! Orang-orang ini adalah para pengecut yang mencari pelarian masalahnya," gerutu Malam. Ia ingin sekali memberangus tempat ini, jika lupa bahwa Rabb adalah yang Maha Menghakimi lagi Maha Adil.
Mereka adalah salah satu sumber masalahnya.
Malam mulai letih.
Kenyataan yang dilihatnya tidak hanya satu, tapi be-ribu.
Lantas, bagaimana aku dapat menikmati lagi ketentramanku?
Di tengah upaya yang nyaris putus asa, malam mendengar nyanyian merdu. Ia cari sumber suara itu. Suara yang menentramkannya. Suara yang meredam kesedihan Malam.
Siapa sangka, suara itu adalah lantunan doa-doa panjang dari seorang Ayah untuk puterinya, dari seorang suami untuk isterinya, dari seorang kepala keluarga untuk tanggung jawabnya, sumber kebahagiaannya. Cukuplah Malam menyimpan rahasia doa itu. Doa yang menjadi sumber ketenangan Malam.
Ah! Di akhir doa itu Malam tak sengaja mendengar, "Rabb, terima kasih telah menciptakan malam. Malam yang romantis menggemakan setiap munajatku pada-Mu"
Malam mendapatkan lagi ketenangannya, kenyamanannya.
Sebuah doa itu telah meredam beribu kebisingan.---
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan rezeki bagi para Ayah sejati :')
Salam rindu dari puterimu
Perjalanan Malam
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 27, 2016
Rating: 5
Keduanya
Bismillah...
Kita = himpunan semesta untuk seluruh muslim
Kita dapat berbangga sebagai seorang muslim. Golongan hamba yang tangisnya pahala dan senyumnya juga pahala. Tangis adalah sabarnya, sementara senyum adalah syukurnya.
Tapi berapa banyak di antara kita yang berhasil memahami bagaimana cara untuk tetap bersabar walau menangis?
Berapa banyak yang menyempatkan lisan, hati dan anggota tubuhnya untuk terus bersyukur ketika tersenyum gembira?
Kawan, berhasillah dalam keduanya
Menangkanlah keduanya
Hingga kita benar-benar akan mendapatkan keberuntungan saat menaklukkan keduanya
Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran..
Bertasbihlah, Agungkan lah Nama RabbMu..
Rabb semesta alam
Rabb tempat menyembah, meminta, dan memohon pertolongan dalam rukuk dan sujudMu
-saya hanya tidak tahu apakah harus menangis, apakah harus tertawa :'
Kita = himpunan semesta untuk seluruh muslim
Kita dapat berbangga sebagai seorang muslim. Golongan hamba yang tangisnya pahala dan senyumnya juga pahala. Tangis adalah sabarnya, sementara senyum adalah syukurnya.
Tapi berapa banyak di antara kita yang berhasil memahami bagaimana cara untuk tetap bersabar walau menangis?
Berapa banyak yang menyempatkan lisan, hati dan anggota tubuhnya untuk terus bersyukur ketika tersenyum gembira?
Kawan, berhasillah dalam keduanya
Menangkanlah keduanya
Hingga kita benar-benar akan mendapatkan keberuntungan saat menaklukkan keduanya
Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran..
Bertasbihlah, Agungkan lah Nama RabbMu..
Rabb semesta alam
Rabb tempat menyembah, meminta, dan memohon pertolongan dalam rukuk dan sujudMu
-saya hanya tidak tahu apakah harus menangis, apakah harus tertawa :'
Keduanya
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 18, 2016
Rating: 5
Nano-nano
Bismillah,
Nano-nano. Ini adalah kata yang saya gunakan untuk menggambarkan perasaan hari ini. Benar-benar segala rasa.
Hari ini bersama rombongan musyrifah asrama, saya pergi wisata menuju pesisir selatan. Ada apa di sana? Banyaak!
Yang jelas-beberapa destinasi yang saya kunjungi adalah Pantai Pinus, tempat yang sepanjang pantainya berdiri pinus-pinus gagah nan menentramkan. Saya suka berada di tengah-tengahnya. Lindung.
Well, saya lebih banyak bertindak sebagai fotografer. Tapi itu yang menyenangkan. Setiap kali melihat jangkauan kamera yang hanya sebatas layar kamera saat itu juga kita bisa benar-benar mengagumi mata ciptaan Sang Pencipta. Pandangan kita jauh lebih luas dan canggih dibanding kamera karna kamera hakikatnya memang meniru prinsip kerja mata. Pandangan itu bisa semakin luas dengan ilmu pengetahuan dan wawasan.
Lalu, kami beralih ke pantai zzz (saya lupa namanya). Di sini saya kecelakaan :'(
Awalnya saya tidak berniat naik banana boat, hanya berniat naik donat boat (ngga tau spelling benernya, kalo doughnut adonan tepung dan kacang dong ya? Haha sudahlah?) karna belum pernah mencoba hiburan uji nyali yang ini. Tapi karna diajak sama konco perjalanan dan segan menolak (lebih ke karna bakal seru aja) saya akhirnya naik banana boat juga. Murah kalo ngga hari libur euy! Rombongan pertama aman. Saya naik di giliran rombongan kedua. Nah ini kisahnya. Ketika di tengah laut, di tengah laut man! Sekali lagi, di TENGAH laut! Si abang-abang yang bawa boatnya pingin belok tapi gelombang sepertinya tak menghendaki hal itu hingga terhempaslah kami di tengaj lautan. Biasanya sih ini sensasi yang diberikan ketika penumpang banana boat mendekati pantai. Tapi kami mengalaminya di tengah lautan luas. Seru. Wiih, kebayang serunya. Uji nyali banget kan? Eh air laut di tengah itu bening euy, cantik! Cuma ya tetep aja kaget ngga siap sama momen itu. Karna kekagetan saya itu, air masuk ke telinga saya. Well, katakan ini biasa. Tapi sampai akhirnya pulang airnya ngga keluar-keluar. Padahal saya udah coba berbagai macam cara, mulai dari menutup hidung dan bernafas lewat telinga, loncat-loncat sambil miringin kepala, sampai cara konvensional masukin air tawar eh malah air tawarnya ngga mau keluar. Jadilah saya menahan sakit selama wisata.
Tapi ya begitulah, yang namanya menikmati alam tetap selalu menyenangkan. Saya dapat kesempatan terjun dari Puncak Mandeh. Iya itu loh yang kita naik tebing dikit trus coba terjun dari sana ke laut. Aaaak! It was so amazing! Ya deg-degan sih awalnya. Akhirnya seru pas udah nyebur ke laut.
Terakhir jalan-jalannya ditutup di Hutan Mangrove. Melewati rawa menuju air terjun, air tawar pastinya. Bersih-bersih. Main perosotan. Ada batu yang asik banget dijadiin buat perosotan. Saya penemu pernainan ini lalu kemudian ajakin yang lain dan mereka pun ketagihan (ini maksudnya pamer? Sombong banget! Astagfirullah ngga kok. Maksudnya kalo mau tau persis lokasi batunya yang mana bole tanya saya).
Selama main mah saya bisa lupa sakit telinga. Selesai main mulai kerasa. Saya coba lagi segala cara yang bisa membuat air keluar dari telinga saya. Saya sumbat pake tissue. Dan tissuenya menyerap air tapi campur darah. Saya menahan sakit yang lebih hebat dari Dermaga TPI carocok hingga sampai di Padang. Sampai di Padang saya mohon izin dan memutuskan pulang. Ke dokter dulu dan janjian sama Papa di sana.
I got the problem with my eardrum. The doctor gave me some kind of medicines and I have to drop it into my ear. My nose is sick. My head is sick. And My papillae can taste nothin' T.T
Menjaga memang salah satu hal paling sulit yang harus kita lakukan sebagai manusia.
Segala anggota tubuh kita ini bukan milik kita tapi milik Allah.
Ingat salah satu dari 5 perkara,
Sehat sebelum sakit.
Doakan saya ya! Terima kasih teman..
Nano-nano. Ini adalah kata yang saya gunakan untuk menggambarkan perasaan hari ini. Benar-benar segala rasa.
Hari ini bersama rombongan musyrifah asrama, saya pergi wisata menuju pesisir selatan. Ada apa di sana? Banyaak!
Yang jelas-beberapa destinasi yang saya kunjungi adalah Pantai Pinus, tempat yang sepanjang pantainya berdiri pinus-pinus gagah nan menentramkan. Saya suka berada di tengah-tengahnya. Lindung.
Well, saya lebih banyak bertindak sebagai fotografer. Tapi itu yang menyenangkan. Setiap kali melihat jangkauan kamera yang hanya sebatas layar kamera saat itu juga kita bisa benar-benar mengagumi mata ciptaan Sang Pencipta. Pandangan kita jauh lebih luas dan canggih dibanding kamera karna kamera hakikatnya memang meniru prinsip kerja mata. Pandangan itu bisa semakin luas dengan ilmu pengetahuan dan wawasan.
Lalu, kami beralih ke pantai zzz (saya lupa namanya). Di sini saya kecelakaan :'(
Awalnya saya tidak berniat naik banana boat, hanya berniat naik donat boat (ngga tau spelling benernya, kalo doughnut adonan tepung dan kacang dong ya? Haha sudahlah?) karna belum pernah mencoba hiburan uji nyali yang ini. Tapi karna diajak sama konco perjalanan dan segan menolak (lebih ke karna bakal seru aja) saya akhirnya naik banana boat juga. Murah kalo ngga hari libur euy! Rombongan pertama aman. Saya naik di giliran rombongan kedua. Nah ini kisahnya. Ketika di tengah laut, di tengah laut man! Sekali lagi, di TENGAH laut! Si abang-abang yang bawa boatnya pingin belok tapi gelombang sepertinya tak menghendaki hal itu hingga terhempaslah kami di tengaj lautan. Biasanya sih ini sensasi yang diberikan ketika penumpang banana boat mendekati pantai. Tapi kami mengalaminya di tengah lautan luas. Seru. Wiih, kebayang serunya. Uji nyali banget kan? Eh air laut di tengah itu bening euy, cantik! Cuma ya tetep aja kaget ngga siap sama momen itu. Karna kekagetan saya itu, air masuk ke telinga saya. Well, katakan ini biasa. Tapi sampai akhirnya pulang airnya ngga keluar-keluar. Padahal saya udah coba berbagai macam cara, mulai dari menutup hidung dan bernafas lewat telinga, loncat-loncat sambil miringin kepala, sampai cara konvensional masukin air tawar eh malah air tawarnya ngga mau keluar. Jadilah saya menahan sakit selama wisata.
Tapi ya begitulah, yang namanya menikmati alam tetap selalu menyenangkan. Saya dapat kesempatan terjun dari Puncak Mandeh. Iya itu loh yang kita naik tebing dikit trus coba terjun dari sana ke laut. Aaaak! It was so amazing! Ya deg-degan sih awalnya. Akhirnya seru pas udah nyebur ke laut.
Terakhir jalan-jalannya ditutup di Hutan Mangrove. Melewati rawa menuju air terjun, air tawar pastinya. Bersih-bersih. Main perosotan. Ada batu yang asik banget dijadiin buat perosotan. Saya penemu pernainan ini lalu kemudian ajakin yang lain dan mereka pun ketagihan (ini maksudnya pamer? Sombong banget! Astagfirullah ngga kok. Maksudnya kalo mau tau persis lokasi batunya yang mana bole tanya saya).
Selama main mah saya bisa lupa sakit telinga. Selesai main mulai kerasa. Saya coba lagi segala cara yang bisa membuat air keluar dari telinga saya. Saya sumbat pake tissue. Dan tissuenya menyerap air tapi campur darah. Saya menahan sakit yang lebih hebat dari Dermaga TPI carocok hingga sampai di Padang. Sampai di Padang saya mohon izin dan memutuskan pulang. Ke dokter dulu dan janjian sama Papa di sana.
I got the problem with my eardrum. The doctor gave me some kind of medicines and I have to drop it into my ear. My nose is sick. My head is sick. And My papillae can taste nothin' T.T
Menjaga memang salah satu hal paling sulit yang harus kita lakukan sebagai manusia.
Segala anggota tubuh kita ini bukan milik kita tapi milik Allah.
Ingat salah satu dari 5 perkara,
Sehat sebelum sakit.
Doakan saya ya! Terima kasih teman..
Nano-nano
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 15, 2016
Rating: 5
Pakaian Bagus
Bismillah,
Riri yang gajian sedang senang lalu pamer pada Gigi,
Riri: Eh Gi, Alhamdulillah aku ada lebih rezeki.Sesungguhnya Allah telah menciptakan untuk mu pakaian indah yang dengannya kamu gunakan untuk melindungi auratmu. Dan sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa...
Gigi: Aciee... ada rencana apa dengan rezekinya Ri?
Riri: Hem, aku sebenernya butuh pakaian.
Gigi: Wah, oke juga
Riri: By the way, pakaian bagus apa ya Gi? Rok, baju, jilbab, apa satu stel aja?
Gigi: Pakaian taqwa :)
Riri: He he he. iya deh aku tabung dulu aja duitnya buat bikin sekolah ya :D
Gigi: Eh, Ri! Traktir aku dong
Riri: HEeeeeeee?!
Pakaian Bagus
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 10, 2016
Rating: 5
Kubur
Bismillah,
Anak-anak bercerita tentang kubur, mereka baru saja "dikuburkan".
Tiga hari (pada beberapa waktu lalu) mereka mengikuti training motivasi tentang 18 sikap yang harus dimiliki lulusan. Berhubung anak-anak yang saya pegang berada di tingkat akhir, jadi ini penting untuk mereka pahami dan praktekkan. Pemahaman ini harus selesai sebelum mereka menuju dunia luar. Ini kurikulum baru, saya tidak menerimanya dulu.
Di akhir acara training mereka diajak oleh motivator, merenung untuk tetap menjaga bekal dan semangat mereka. Kembali mengevaluasi diri, siapkah mereka menghadapi "masa depan" yang sungguh pasti datangnya mengakhiri masa kehidupan di dunia. Kegiatan penutup ini adalah simulasi.
Lalu, setelah mendengar cerita dari berbagai sudut pandang,
malam harinya aku yang merenung panjang.
Adalah giliranku bercerita.
Menceritakan sudut pandangku pada diri sendiri.
Menengadah menatap langit-langit.
Lalu mengajukan pertanyaan,
Jawabanku tertelan oleh gelap malam.
Diterbangkan angin malam menuju langit di atas langit
Rabb, pasti mendengar jawabku...
Anak-anak bercerita tentang kubur, mereka baru saja "dikuburkan".
Tiga hari (pada beberapa waktu lalu) mereka mengikuti training motivasi tentang 18 sikap yang harus dimiliki lulusan. Berhubung anak-anak yang saya pegang berada di tingkat akhir, jadi ini penting untuk mereka pahami dan praktekkan. Pemahaman ini harus selesai sebelum mereka menuju dunia luar. Ini kurikulum baru, saya tidak menerimanya dulu.
Di akhir acara training mereka diajak oleh motivator, merenung untuk tetap menjaga bekal dan semangat mereka. Kembali mengevaluasi diri, siapkah mereka menghadapi "masa depan" yang sungguh pasti datangnya mengakhiri masa kehidupan di dunia. Kegiatan penutup ini adalah simulasi.
Lalu, setelah mendengar cerita dari berbagai sudut pandang,
malam harinya aku yang merenung panjang.
Adalah giliranku bercerita.
Menceritakan sudut pandangku pada diri sendiri.
Menengadah menatap langit-langit.
Lalu mengajukan pertanyaan,
Apakah bekal yang kamu persiapkan adalah bekal terbaik?Pertanyaan yang dadaku sesak menjawabnya.
Jawabanku tertelan oleh gelap malam.
Diterbangkan angin malam menuju langit di atas langit
Rabb, pasti mendengar jawabku...
Kubur
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 10, 2016
Rating: 5
Ketepatan Waktu
Bismillah,
Manusia diciptakan memiliki dua kecondongan, kefasikan dan ketakwaan. Itu berarti, setiap kita memilikinya di dalam diri kita. Suatu hari jika kita tersesat di jalan kekufuran, kita mungkin akan sampai pada titik lelah dengan segala nafsu duniawi. Lelah terlalu memperturutkannya selama ini. Kita mulai sadar dari kelupaan kita terhadap keberadaan Rabb, terhadap identitas kita sebagai hamba. Jiwa dan raga begitu ingin segera berhenti dari segala aktivitas yang sama sekali tak menimbulkan manfaat untuk keberkahan ukhrawi kita. Lalu bisikan dan dorongan hati untuk segera bertaubat pada Allah terdengar entah dari mana asalnya.
Ketika kita menyadari bisikan itu, jangan sampai tidak mengacuhkannya.
Coba untuk mendengarnya dengan seksama, pahami dan maknai hakikatnya.
Mungkin kita terlalu jauh berpaling dari jalan orang-orang yang bertakwa,
Aku pikir itu adalah panggilan iman, panggilan taubat, hak jiwa yang harus ditunaikan.
Bagaimana kalau tidak diacuhkan? Kita mengelak dan mengira seolah-olah itu hanya bisikan iseng yang salah tujuan.
Kawan, aku khawatir kita benar-benar akan terlambat dalam taubat.
Sebagaimana wajibnya memenuhi shalat bagi orang-orang yang terlupa ketika ia ingat telah terlewat salah satu waktu shalat, kapanpun itu.
Saya ingin bertaubat, apakah sudah terlambat?
Manusia diciptakan memiliki dua kecondongan, kefasikan dan ketakwaan. Itu berarti, setiap kita memilikinya di dalam diri kita. Suatu hari jika kita tersesat di jalan kekufuran, kita mungkin akan sampai pada titik lelah dengan segala nafsu duniawi. Lelah terlalu memperturutkannya selama ini. Kita mulai sadar dari kelupaan kita terhadap keberadaan Rabb, terhadap identitas kita sebagai hamba. Jiwa dan raga begitu ingin segera berhenti dari segala aktivitas yang sama sekali tak menimbulkan manfaat untuk keberkahan ukhrawi kita. Lalu bisikan dan dorongan hati untuk segera bertaubat pada Allah terdengar entah dari mana asalnya.
Ketika kita menyadari bisikan itu, jangan sampai tidak mengacuhkannya.
Coba untuk mendengarnya dengan seksama, pahami dan maknai hakikatnya.
Mungkin kita terlalu jauh berpaling dari jalan orang-orang yang bertakwa,
Aku pikir itu adalah panggilan iman, panggilan taubat, hak jiwa yang harus ditunaikan.
Bagaimana kalau tidak diacuhkan? Kita mengelak dan mengira seolah-olah itu hanya bisikan iseng yang salah tujuan.
Kawan, aku khawatir kita benar-benar akan terlambat dalam taubat.
Karena ketepatan waktu bagi yang lupa memenuhi panggilan adalah ketika ia mengingat kembali apa yang telah terlewat olehnya. Saat itu juga ia bersegera memenuhi panggilan, maka ia tidaklah terlambat.
Sebagaimana wajibnya memenuhi shalat bagi orang-orang yang terlupa ketika ia ingat telah terlewat salah satu waktu shalat, kapanpun itu.
Ketepatan Waktu
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 04, 2016
Rating: 5
Menemukan Cahaya
Bismillah,
Suatu malam di halaman rumah Riri dan Gigi,
Riri: Eh Gi, ngapain? Ngga makan?
Gigi: Ngga tahu nih Ri, hidup aku akhir-akhir ini gelap...
Riri: Hem, sampe-sampe kamu juga ngga bisa liat makanan gitu Gi?
Gigi: Jangan ngaco deh Ri! Kamu malah ganggu ih,
Riri: Ehehe, becanda Gi.
... Hening...
Riri: Kamu, tahu darimana hidup kamu gelap Gi?
Gigi: Aku yang rasa Ri...
Riri: Menurut kamu apakah menentukan gelap atau terang itu tugasnya hati?
Gigi: Bukan, itu tugas mata kan?
Riri: Yep! Bener banget. Jadi kenapa kamu merasa hidup kamu gelap?
Gigi: ...
Gigi terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Riri kemudian menerka-nerka ke mana arahnya.
Riri: Gi, sini deh..
Riri mengajak Gigi berjalan keluar dari pagar rumah, lebih jauh
Riri: Itu :)
Kalau kita duduk di sana, kita hanya menemukan langit kosong, gelap. Tapi kalau kita berdiri di sini kita bisa lihat bulan yang bercahaya. Tadi ngga keliatan karna ketutup atap rumah.
Gigi: Makasih udah bantu aku menemukan cahaya, Ri!
Riri: Sama-sama:D
------
Seperti Gigi, kadang kita merasa hidup kita mulai gelap, hampa. Musibah dan masalah melanda bersahut-sahutan seperti enggan berhenti. Cahaya yang biasa menghiasi semangat dalam langkah kita meredup nyaris padam.
Siapa kita yang mampu menghentikan semua masalah itu berdatangan?
Kita tidak akan menghentikannya. Kita akan menyambutnya, menggenggam erat masalah-masalah itu, kekecewaan itu, segala bentuk kegelapan itu, lalu menerimanya dengan keluasan hati. Kita akan bergerak menemukan cahaya hikmah yang pasti selalu ada dalam kegelapan yang kita hadapi.
Kita adalah aktor tunggal yang memiliki kendali penuh atas ego, perasaan dan pikiran kita sendiri.
Rabb semesta alam adalah sutradara Ter-Agung yang menuntun kita memainkan rasa dan logika dalam drama kehidupan ini, melalui script terbaik sepanjang masa. Ya, Al-Quran.
Lantas, jika suatu hari kita mendapati diri menangis terlalu hebat, kecewa terlalu dalam, bangga berlebih-lebih, bisa jadi karena kita bergerak menjauh dari peran yang harus kita tunjukkan sebagai, seorang hamba. Hingga apa yang kita rasa dan kita pikir dipenuhi gelap karna mata tak mampu menemukan cahaya yang tertinggal.
Kembali,
Kembalilah menuju Allah,
Kembali menggenggam cahaya hidup kita, Al-Quran.
Menemukan Cahaya
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 03, 2016
Rating: 5
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 03, 2016
Rating: 5
Halo!
Bismillah,
Alo~~
--Gaya-gaya awkward baru ketemu lagi)
Huwaaaa! Sudah setahun yah kita tidak berjumpa :">
Kangen ya, kangen? Hayo ngaku!
--Anak-anak saya kalau saya sudah bicara begini biasanya langsung balik kanan sambil bilang, "Udah lah kak, ndak tahan ana kak" :))
Iya, saya cukup sibuk akhir-akhir ini.
--halah, sok banget
Sejak kebimbangan terakhir yang saya utarakan,
--ih, males banget bahasanya bimbang
--e biar! Kan puitis
--jadi kapan mau ceritanya?!
-oh, iya oke
Sejak kebimbangan (tetap aja ngga mau pake kata lain) terakhir yang saya utarakan, saya mulai disibukkan dengan kegiatan asrama seperti jadi pembimbing makalah anak-anak asrama saya yang akan sidang akhir kelas 3, sempat sakit, mengurus nilai-nilai yang harus disetorkan, dan mengadakan Al-Quran & Science Camp untuk anak SD sederajat. Alhamdulillah semua sudah terlewati dan memberikan kebahagiaan, pelajaran dan hikmah kehidupan tersendiri bagi saya. Tepuk tangan! (prok prok prok, sim salabim jadi apa!)
Oiya, soal bimbang-bimbangan itu, akhirnya saya, hem, memperbaharui niat. Muhasabah, evaluasi, dan melakukan segala hal untuk mengetahui salah saya.
Dan bener salahnya di saya -___-"
Tahu aja? In sya a Allah engga.
Semoga Allah menunjukkan jalan.
Saya justru bisa meninggalkan keduanya, nafsu saya membisikkan jalan-jalan mudah untuk melakukannya, tapi saya tidak mau ^^"
Apa? Alasannya?
Hem, bolehkan, kalau cukup saya dan Allah yang mengetahui kebenarannya :')
Doakan saya, ya!
Eh, eh, btw ada yang aneh kah dengan tulisan saya?
Ada? Apa Ngga ada keanehan sama sekali?
Alo~~
--Gaya-gaya awkward baru ketemu lagi)
Huwaaaa! Sudah setahun yah kita tidak berjumpa :">
Kangen ya, kangen? Hayo ngaku!
--Anak-anak saya kalau saya sudah bicara begini biasanya langsung balik kanan sambil bilang, "Udah lah kak, ndak tahan ana kak" :))
Iya, saya cukup sibuk akhir-akhir ini.
--halah, sok banget
Sejak kebimbangan terakhir yang saya utarakan,
--ih, males banget bahasanya bimbang
--e biar! Kan puitis
--jadi kapan mau ceritanya?!
-oh, iya oke
Sejak kebimbangan (tetap aja ngga mau pake kata lain) terakhir yang saya utarakan, saya mulai disibukkan dengan kegiatan asrama seperti jadi pembimbing makalah anak-anak asrama saya yang akan sidang akhir kelas 3, sempat sakit, mengurus nilai-nilai yang harus disetorkan, dan mengadakan Al-Quran & Science Camp untuk anak SD sederajat. Alhamdulillah semua sudah terlewati dan memberikan kebahagiaan, pelajaran dan hikmah kehidupan tersendiri bagi saya. Tepuk tangan! (prok prok prok, sim salabim jadi apa!)
Oiya, soal bimbang-bimbangan itu, akhirnya saya, hem, memperbaharui niat. Muhasabah, evaluasi, dan melakukan segala hal untuk mengetahui salah saya.
Dan bener salahnya di saya -___-"
Tahu aja? In sya a Allah engga.
Semoga Allah menunjukkan jalan.
Saya justru bisa meninggalkan keduanya, nafsu saya membisikkan jalan-jalan mudah untuk melakukannya, tapi saya tidak mau ^^"
Apa? Alasannya?
Hem, bolehkan, kalau cukup saya dan Allah yang mengetahui kebenarannya :')
Doakan saya, ya!
Eh, eh, btw ada yang aneh kah dengan tulisan saya?
Ada? Apa Ngga ada keanehan sama sekali?
Halo!
Reviewed by Kisah Fajr
on
Januari 01, 2016
Rating: 5
Langganan:
Komentar
(
Atom
)



