Merasa

Bismillah...

Gigi: Ri, Kamu pernah merasa dicintai?
Riri: Pernah, selalu. Sebagaimana yang ditunjukkan Rasulullah terhadap umatnya. Hei, kita ini umat Beliau kan?
Gigi: Yang ditunjukkan Rasulullah, (semoga) ada dalam amal perbuatan. Maksudku merasa.
Riri: Pernah. juga. Selalu. Sebagaimana yang diberikan ayah ibu?
Gigi: Yang diberikan ayah ibu terjaga dalam sanubari. Maksudku merasa, Ri.
Riri: Ooh, maksudmu ke-ge-er-an? Hm.. Ada tidak yah?
Gigi: Bukan. Bukan itu yang ingin kukatakan.
Riri: Jadi tentang apa?
Gigi: Merasa dicintai. Jika seseorang merasa dicintai, tentu dia tidak mengetahui kebenaran itu seutuhnya. Karna yang berkata adalah perasaannya. Bukan otak yang dengan canggihnya menganalisis untuk menemukan sebuah fakta, atau didengar dari orang yang terpercaya perkataannya.
Pengetahuan itu hanya milik Allah dan orang yang menumbuhkan perasaan itu terhadapnya. Tapi apa yang terjadi jika dia merasa. Dia tahu, tapi dugaan tentu saja bukan fakta. Dia tahu, pun tak bisa berbuat apa-apa.
Riri: Lalu?
Gigi: Lalu, apakah orang itu nantinya akan menyesal?
Riri: Mengapa?
Gigi: Karena tak mampu membalas kebaikan paling baik yang ditumbuhkan untuknya?
Riri: ...
Gigi: Hei, apakah orang itu akan menyesal?
Riri: Kupikir dia bisa saja membalasnya, namun...
Gigi: Sulit.
Riri: Yap. Selama ia mengingat dengan baik bahwa agama mengatur segala perkara, dan urusan membalas ini bukan termasuk perkara mudah.
Gigi: Jadi?
Riri: Allah akan membalas setiap kebaikan yang ditebar di muka bumi selama Nama Allah menjadi hulu dan muara kebaikan tersebut.
Gigi: Hm, isee
Riri: ...
Gigi: ...
Riri: Oh ya. Sebenarnya penyesalan itu bisa menjadi tidak ada, jika tempat rasa itu ditumbuhkan adalah tempat yang sama dengan tempat ia pulang, baik pengabdian atau sumber kenyamanan. Tapi siapa yang tahu masa depan!
Gigi: Benar juga!

-----
Semoga Allah selalu membimbing setiap perasaan agar terjaga padanya kesucian

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.