Mereka dan Ramadhan #5

Bismillah,

Cerita Mereka dan Ramadhan #5 kali ini lebih nyata. Berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang semi-real, mungkin pernah dialami seseorang mungkin juga tidak, karna dalam cerita tersebut saya menciptakan permasalahan yang mungkin terjadi di hari-hari Ramadhan dan mencoba memetik hikmahnya. Namun kali ini, perjalanan yang saya laluilah, yang menceritakan hikmah tersebut.

Hari ini, untuk pertama kalinya saya berbuka di "luar". Setelah sebelum-sebelumnya berbuka (dan sahur tentu saja) di kosan. Saya memilih untuk masak apapun bahan yang memang sudah disiapkan sejak awal menghadapi hari-hari Ramadhan. Hanya keluar ketika adzan isya berkumandang. Pasalnya persediaan makanan baru saja (lauk-pauk) habis saat sahur tadi. Setelah ashar saya berniat membeli lauk di luar, tapi tertunda karena saya (katakan saja sedang sok rajin) melakukan konfigurasi model dan eksekusi sebuah kode program hingga baru selesai pukul setengah 6.

Ah, uang simpanan di dompet saya benar-benar habis. Sudah beberapa hari sebetulnya, tapi saya tidak berniat mengambilnya di atm persis ketika habis waktu itu. Tidak ada kepentingan yang darurat sepertinya, jadi saya santai saja. Lagi pula ke kampus bisa jalan (sebenernya sih sedih kalau ditarik terus, karna saldo menipis >v<).
Perjalanan membeli makanan kali ini pun lebih panjang.

Selesai dari atm, saya kembali berjalan menuju kosan. Semua orang telah siap dengan menu perbukaan sederhana di meja masing-masing. Para pedagang sibuk menyiapkan menu berbuka puasa bagi pembelinya. Tidak begitu pandai mendeskripsikannya, tapi pemandangan ini mengagumkan! Tidak satupun saya melihat wajah penat para pedagang yang menyiapkan banyak sekali menu walaupun (in sya a Allah mereka berpuasa-karena saya melihat mereka berdoa dan minum ketika adzan). Orang-orang saling bersahutan mengabarkan kabar gembira. Sudah adzan, magrib.
Ya. Saya masih berjalan ketika saat itu adzan berkumandang. Berlari sedikit mencari tempat duduk, lalu membatalkan puasa (sudah dibeli karna sudah ada duit :3). Perjalanan saya lanjutkan hingga ke destinasi tujuan, warung makan pilihan. Lalu di sanalah pesan saya peroleh.

Di hari-hari biasa, apakah kamu pernah menemukan "orang-orang yang mendatangi" warung-warung makan, hanya berdiri mematung di pintu warung tetapi  diacuhkan bahkan diusir?
Saya sering menemukannya.
Tapi kali ini Ramadhan.
Saya menyaksikannya lagi. Seseorang berdiri mematung di pintu warung makan dan kamu dapat menerjemahkan sendiri arti tatapannya.
Tapi kali ini Ramadhan.
Allah menggerakkan hati manusia. Kebaikan hati bertambah-tambah dibandingkan hari biasa.
Sadaqah lebih ringan dikeluarkan. Tidak hanya makan, tetapi beserta minumannya.
Tapi kali ini Ramadhan.
Hati yang biasanya kasar menjadi lebih lembut dan bijaksana.
Ya. Ini Ramadhan,
Waktu saat setiap kebaikan mendapat kebaikan berlipat.

Sudah, memberi makan orang yang berpuasa?

Selamat menguatkan pengharapan memohon ampunan,
Kita telah sampai pada 10 hari ke dua di Bulan penuh berkah ini.
Tetap semangat!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.