Mengalah

Bismillah,

Selama Ramadhan, saya termasuk jarang "ngabuburit".
Seperti yang pernah saya ceritakan, selagi di tempat tinggal terdapat persediaan makanan, saya memilih mengoptimalkannya dibanding mencari makanan ke luar. Terlebih ketika di rumah, ada banyak hal yang mesti dipersiapkan menjelang berbuka puasa. Membuat minuman, camilan, memasak lauk, memasak nasi. Tentu saja persediaan telah dibeli ketika hari minggu pagi, atau Mama kebetulan mampir ke pasar saat pulang kerja. Hmm, okey, walaupun saya lebih sering kebagian kupas bawang, memasak nasi, atau menjadi pengamat di dapur, karena tentu saja tokoh utama 'Penguasa Dapur' adalah Mama dan Uni. Oiya, setahun di rumah, saya lebih jago mengingat letak barang-barang dibanding Uni B-). Setidaknya My Mom can count on me laaa :3

Oke, cerita di atas ngga penting sih (~v~) maaap
(Truuuuusssss, ngapain dituliiiis Neng!)

Tapi, hari ini saya ngabuburit. Saya melihat jalanan ramai sekali. Macet!
Saya, memandu adik sepupu saya [dia yang bawa motornya, karna saya sedang males. euleeuh, ngga bisa bilang males :))] untuk terjebak dalam sebuah kemacetan. Bukan karna sistem GPS saya rusak atau saya tidak tahu daerah tempat tinggal saya sendiri loh, ini memang menjebakkan diri. Lantas, saya menemukan fenomena menarik.

Sepengamatan saya, permasalahan kemacetaan sering muncul di daerah persimpangan, simpang 4.
Ya, ngga sih?
Misal, di persimpangan tersebut sudah terbentuk sebuah jalur lurus. Lalu, mau-tidak-mau jalur tersebut harus "diputus" ketika ada sebuah kendaraan yang masuk ke tengah jalur dengan lintasan tegak lurus.
Seperti membuat tanda tambah/ plus. Pertama, terbentuk garis lurus vertikal, lalu masuk sebuah kendaraan ke tengah jalur tersebut dengan arah horizontal (makin pusing. Pokoknya gitu T-T)
#abaikanmotornyempil

------------------------------------------------------------------------
p jika hanya jika q
p = mobil terdepan di jalur utama vertikal yang harus diputus, mau mengalah
q = persoalan kemacetan menjadi lebih mudah diselesaikan
------------------------------------------------------------------------
>> Saya menggunakan operator biimplikasi, karena kesimpulan dua pernyataan ini bernilai benar jika dan hanya jika antesenden dan konsekuen keduanya bernilai benar atau keduanya bernilai salah. 

Block di atas adalah kesimpulan dari apa yang saya dapatkan dari pengamatan sore ini.
Okee, tulisan ini selesaai!
(Eeeh, deduksi sih deduksi, penjelasan tambahan manaa? Main kabur@,@)
Oke, oke, ini dia~~

Reka dan Asumsi Perkara
1. Jalur vertikal utama -yang harus diputus- adalah jalur vertikal/utara-selatan sebelah kanan saya
2. Di perempatan,  jalur horizontal/barat-timur, ada angkot yang masuk dari arah kiri saya
3. Saya masuk dari tetangga/sejajarnya jalur utama vertikal yaitu jalur vertikal yang di sebelah kiri saya. Ceritanya saya mau belok kanan, arah yang sama dengan angkot

Jadi, saat terjebak di persimpangan, awalnya saya melihat mobil terdepan-yang jalurnya akan diputus-sangat agresif memajukan mobilnya se-centi demi se-centi. Berat sekali memberikan kesempatan untuk angkot masuk di sela-sela/memutus jalur tersebut. Akibatnya, jalur lurus yang sejajar dengannya pun harus menjadi korban, terpaksa terhenti.
Untuk mencipta ruang, sudah kepalang tanggung. Di belakang angkot, sudah banyak kendaraan mengantri , pun saling merapat. Mobil di jalur utama vertikal juga sangat kompak, saling merapat. Mobil-mobil di belakang saya mulai ribut, klaksonnya bersahut-sahutan satu dengan yang lain.

Hingga, nampaklah secercah cahaya dari mobil Kijang Toyota keluaran 90an yang setelah beberapa menit berlalu, memegang peran sebagai "mobil terdepan di jalur utama vertikal"
Ia mengalah, memberikan ruang agar angkot dapat masuk. Tidak memajukan mobil, lalu memberi kode dengan isyarat tangan, mempersilakan angkot untuk masuk. Setelah beberapa kendaraan dapat lewat memutus jalur utama, pengemudi kendaraan terdepan yang mengikuti jalur angkot pun berhenti, mempersilakan kendaraan di jalur utama untuk melaju kembali.
(Kira-kira begitulah siklusnya bergantian hingga kendaraan mulai ditidurkan di parkiran tiap-tiap rumah.
Sampai jalanan tampak sepi, dan hanya diisi satu dua truk angkut barang...)

Mengalah,
Bukan selalu berarti kalah dalam pertarungan.
Mengalah,
Bahkan dapat berarti menang dalam kesabaran
melawan ke-egois-an
menghindari perdebatan
meredakan amarah berkepanjangan
;-)


Sekian
Yakinlah, jalan terbaik akan terang di hadapan

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.